Jika terjadi kenaikan harga salah satu komponen produksi, tentu biaya pokok produksi bertambah besar pula. Ini akan mendorong produsen menaikan harga jual produknya. Bagi para pedagang, terkereknya harga beli juga akan membuat mereka menyesuaikan harga jual barang dagangannya.
Kenaikan harga ini tentu tidak disukai oleh produsen maupun konsumen, penjual maupun pembeli. Soalnya, akibat kenaikan harga produsen atau penjual menghadapi potensi penurunan jumlah konsumen atau pembeli. Kondisi ini bisa menurunkan omzet penjualan dan porsi keuntungan. Sementara, konsumen atau pembeli harus harus merogoh kantong lebih dalam lagi untuk mendapatkan sejumlah barang.
Ilmu ekonomi, menyatakan, " Ketika harga meningkat atau naik, maka jumlah barang yang diminta akan menurun dan sebaliknya apabila harga turun jumlah barang yang diminta akan meningkat." Toh ini bukan harga mati, masih ada kiat agar pelanggan tidak berkurang ketika harga harus dinaikkan.
1. Pilih bentuk "kenaikan" harga
1. Pilih bentuk "kenaikan" harga
Sebenarnya, ada tiga wujud kenaikan harga. Pertama, kenaikan harga dengan nilai nominal harga yang memang naik. Misalnya dari harga Rp 1.000,- naik menjadi Rp 1.250,-. Artinya ada kenaikan Rp 250,-. Kedua, kenaikkan harga diwujudkan dengan mengurangi volume, berat, atau isi barang yang dijual, tetapi dengan harga yang sama. Misalnya, yang semula dijual Rp 1.000,- untuk isi 10 pcs, kenaikkan harganya diwujudkan dengan isi 8 pcs. Ini sebenarnya juga terjadi kenaikan harga. Ketiga adalah dengan menurunkan kualitas produk sampai mengganti bahan baku yang lebih murah tanpa menurunkan harga dan mengganti volume, berat atau jumlah isi. Walaupun harga dan volume, berat, atau jumlah isi tetap, disini sebenarnya juga terjadi penurunan kualitas.
2. Kenali segmen pasar
Lalu, kapan dan dimana satu diantara ketiga wujud kenaikan harga di atas bisa diterapkan agar setiap kenaikan harga tersebut tidak menurunkan jumlah dan pembelian konsumennya? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus melihat kembali segmen pasar produk kita, kalangan atas, menengah, atau bawah? Sebab, setiap segmen pasar ini memiliki karakteristik yang berbeda. Mereka berbeda dalam memandang atau memaknai produk yang mereka beli, dan dalam bereaksi setiap ada gejolak kenaikan harga.
Terhadap terjadinya kenaikan harga, segmen kelas bawah tentu paling sensitif. Kenaikan harga akan langsung menurunkan tingkat pembelian konsumen kalangan ini. Sebaliknya, segmen kelas atas tidak akan mempersoalkan kenaikan harga, karena memiliki daya beli yang tinggi. Sementara kelas menengah biasanya masih tetap membeli ketika terjadi kenaikan harga, tapi jumlah pembeliannya berkurang atau lebih sedikit. Demikian pula dengan karakter segmen anak - anak. Mereka cenderung akan membeli barang lainnya yang harganya sama.
Jika kita melayani konsumen segmen kelas atas, kenaikan harga wujud pertama dapat kita gunakan. Nominal harga produk kita naikkan, tetapi kuantitas dan kualitas produk tidak berubah. Bila konsumen segmen kelas menengah yang menjadi pasar produk kita, kenaikan harga wujud kedua lebih tepat untuk dipilih. Di sini nominal harga dan kualitas produk tidak berubah, namun volume, berat atau isi barang dikurangi. Terakhir, jika produk kita diperuntukan bagi konsumen segmen kelas bawah, lebih tepat kita menerapkan kenaikan harga wujud ketiga. Nominal harga dan volume, berat, atau isi barang tidak berubah, tetapi kualitas produk diturunkan. Hanya dengan memilih wujud kenaikan harga yang tepat seperti itu, kenaikan harga diharapkan tidak menurnkan jumlah konsumennya.
3. Masukkan kenaikan bahan produksi dalam harga jual
Kalau terpaksa harus menaikan harga, sebaiknya kita tidak terlalu sering melakukannya. Untuk itu, kita menggunakan strategi penentuan harga jual yang sudah memasukkan faktor kenaikan harga komponen produksi hingga persentase tertentu, misalnya 10%. Dengan strategi ini jika ada kenaikan suatu komponen produksi yang tidak melebihi 10%, kita tidak perlu menaikan harga jual. Kita baru menaikan harga jual jika biaya komponen produksinya melebihi 10%. Yang termasuk dalam komponen produksi adalah bahan baku, bahan bakar, listrik, dsb.
4. Menciptakan ke"khas"an
Memang ada produk - produk yang tingkat penyerapan pasarnya tidak mempengaruhi kenaikan harga jualnya. Produk - produk tersebut antara lain : produk yang tidak punya pesaing, produk yang tidak ada penggantinya, dan produk yang sudah memperoleh kepercayaan yang kuat dari konsumennya, baik dipercaya karena kualitasnya memang teruji sangat bagus atau karena pengaruh promosi oleh produsennya. Nah, agar produk kita tidak punya pesaing, kita harus berani keluar dari persaingan itu sendiri. Caranya dengan menciptkan produk khas atau menambahkan keunikan dari produk yang ada atau yang tidak dimiliki oleh produk pesaing.
5. Memberi merek
Sementara, untuk meraih kepercayaan konsumen kita harus selalu berusaha memberikan kualitas produk yang prima. Jangan lupa memberi merk pada setiap produk kita. Jika terjadi kesalahan produksi yang tidak disengaja dan mengakibatkan penurunan kualitas yang bisa mmebuat konsumen kecewa, maka kita harus berani mengganti merek. Kalau diperlukan, kita juga bisa memberi harga lebih rendah dari produk dengan merek prima. Tujuannya, agar kepuasan konsumen benar - benar terjaga.
Lalu, kapan dan dimana satu diantara ketiga wujud kenaikan harga di atas bisa diterapkan agar setiap kenaikan harga tersebut tidak menurunkan jumlah dan pembelian konsumennya? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus melihat kembali segmen pasar produk kita, kalangan atas, menengah, atau bawah? Sebab, setiap segmen pasar ini memiliki karakteristik yang berbeda. Mereka berbeda dalam memandang atau memaknai produk yang mereka beli, dan dalam bereaksi setiap ada gejolak kenaikan harga.
Terhadap terjadinya kenaikan harga, segmen kelas bawah tentu paling sensitif. Kenaikan harga akan langsung menurunkan tingkat pembelian konsumen kalangan ini. Sebaliknya, segmen kelas atas tidak akan mempersoalkan kenaikan harga, karena memiliki daya beli yang tinggi. Sementara kelas menengah biasanya masih tetap membeli ketika terjadi kenaikan harga, tapi jumlah pembeliannya berkurang atau lebih sedikit. Demikian pula dengan karakter segmen anak - anak. Mereka cenderung akan membeli barang lainnya yang harganya sama.
Jika kita melayani konsumen segmen kelas atas, kenaikan harga wujud pertama dapat kita gunakan. Nominal harga produk kita naikkan, tetapi kuantitas dan kualitas produk tidak berubah. Bila konsumen segmen kelas menengah yang menjadi pasar produk kita, kenaikan harga wujud kedua lebih tepat untuk dipilih. Di sini nominal harga dan kualitas produk tidak berubah, namun volume, berat atau isi barang dikurangi. Terakhir, jika produk kita diperuntukan bagi konsumen segmen kelas bawah, lebih tepat kita menerapkan kenaikan harga wujud ketiga. Nominal harga dan volume, berat, atau isi barang tidak berubah, tetapi kualitas produk diturunkan. Hanya dengan memilih wujud kenaikan harga yang tepat seperti itu, kenaikan harga diharapkan tidak menurnkan jumlah konsumennya.
3. Masukkan kenaikan bahan produksi dalam harga jual
Kalau terpaksa harus menaikan harga, sebaiknya kita tidak terlalu sering melakukannya. Untuk itu, kita menggunakan strategi penentuan harga jual yang sudah memasukkan faktor kenaikan harga komponen produksi hingga persentase tertentu, misalnya 10%. Dengan strategi ini jika ada kenaikan suatu komponen produksi yang tidak melebihi 10%, kita tidak perlu menaikan harga jual. Kita baru menaikan harga jual jika biaya komponen produksinya melebihi 10%. Yang termasuk dalam komponen produksi adalah bahan baku, bahan bakar, listrik, dsb.
4. Menciptakan ke"khas"an
Memang ada produk - produk yang tingkat penyerapan pasarnya tidak mempengaruhi kenaikan harga jualnya. Produk - produk tersebut antara lain : produk yang tidak punya pesaing, produk yang tidak ada penggantinya, dan produk yang sudah memperoleh kepercayaan yang kuat dari konsumennya, baik dipercaya karena kualitasnya memang teruji sangat bagus atau karena pengaruh promosi oleh produsennya. Nah, agar produk kita tidak punya pesaing, kita harus berani keluar dari persaingan itu sendiri. Caranya dengan menciptkan produk khas atau menambahkan keunikan dari produk yang ada atau yang tidak dimiliki oleh produk pesaing.
5. Memberi merek
Sementara, untuk meraih kepercayaan konsumen kita harus selalu berusaha memberikan kualitas produk yang prima. Jangan lupa memberi merk pada setiap produk kita. Jika terjadi kesalahan produksi yang tidak disengaja dan mengakibatkan penurunan kualitas yang bisa mmebuat konsumen kecewa, maka kita harus berani mengganti merek. Kalau diperlukan, kita juga bisa memberi harga lebih rendah dari produk dengan merek prima. Tujuannya, agar kepuasan konsumen benar - benar terjaga.









0 komentar:
Posting Komentar